Menikmati Keindahan Malam di Pantai Marina Ancol

Kali ini genukpacker sharing about "Menikmati Keindahan Malam di Pantai Ancol" sesuai judul nya yah, pastinya to the point yuk,... check it out >>

Siapa sih yang gak taHu Ancol? Ya semua warga RI pastinya tahu terutama warga Jakarta. di Ancol, banyak wahana bermain dan wisata yang dapat kita kunjungi. Antara lain seperti ; Dufan, Sea World, Atlantis Water Adventure, Ocean Dream Samudra, Ocean Ecopark, dan Taman Impian & Pasar Seni. dari semua jenis wahana bermain tersebut anda bisa merogoh kocek tambahan selain dari tiket masuk Ancol. Jika kalian ingin liburan dengan biaya yang free, yakni hanya membayar harga tiket masuk nya saja, kalian bisa berkunjung ke Ancol dengan menikmati Pantai yang ada di Ancol yaitu Pantai Marina Ancol.
Pantai Marina Ancol adalah dermaga kapal pesiar bergaya kosmopolitan yang pertama di Indonesia dan satu-satunya marina terlengkap di Indonesia dan sebagai pusat dermaga wisata bahari ke Kepulauan Seribu. pantai marina ancol bukanlah pantai yang sukar ditemukan. Semua orang mengenalnya, tetapi mencari hal yang berbeda dari apa yang biasa ditawarkan ke publik  menjadi titik awal permasalahan. Apalagi tempat ini punya fasilitas yang terbilang nyaman. Jadi bisa ditebak, siapa yang kurang kerjaan melihat Sunrise kalo gak orang - orang yang sedari subuh sudah mendongkrok disana.

*****
Yaps, kali ini genukpacker Menyempatkan waktu untuk menikmati suasana malam Pantai Marina Ancol, tepatnya di Jakarta Utara, Indonesia. *tercinta eaa xD dan ini bukan untuk mencari Sunrise atau Sunset yah,…  tapi hanya ingin menikmati keindahan Pantai nya saja terutama pada Malam Hari. dan sebetulnya,Trip ini sudah dilakasanakan pada bulan Desember tahun lalu, tepatnya sehari sebelum perayaan Malam Tahun baru 2017. Tapi, karena genupacker malas dan MOOD - mood’an buat ngetik alias ngeBlog, jadi baru terlaksana sekarang untuk di Publish. 
Perjalanan di mulai Pukul 17.00 WIB, pada hari Jum'at 2016. perjalanan dari Bekasi, ke Jakarta Utara, dengan destinasi Ancol, cukup lancar dan tidak ada kendala antara lain seperti Macet dan sbb. Ya Alhamdulillah kan? xD 
Suasana Pantai Marina Ancol pada saat itu cukup ramai, dikarenakan mendekati pergantian tahun tepatnya, sehari sebelum perayaan tahun baru 2017. dan juga pada saat itu ada konser "18th Asian Games 2018" jadi menambah semaraknya suasana pantai ancol tersebut. di sepanjang Pantai Marina Ancol ada Gembok Cinta, disana muda - mudi yang berpasangan dapat menuliskan Nama atau kisah cinta mereka di Gembok tersebut, dengan harapan Cinta mereka akan kekal abadi *ea yang jomblo sedih xD 
                                                    gembok cinta - pada siang hari

gembok cinta - pada malam hari


konser 18th Asian Games 2018

Kalian juga bisa berhemat ala Backpacker yah,.. jadi gelar tiker di sekitaran Pantai Marina Ancol, ingat! kalian bisa bawa tiker sendiri. dan juga bawa makan sendiri/ istilah nya berbekal yah! seperti ini genukpacker bawa Nasi Padang. jangan salah Nasi Padang sudah Go Internasional, di buktikan Bule Jatuh Cinta sama nasi padang, sampai - sampai dibuatkan Lagu dengan judul Nasi Padang *lah jadi ngelantur xD (ini blog atau diary? ah sudahlah) xD dan di Pantai Marina Ancol, kalian juga bisa bermain Pasir yah, ditambah malam hari uhh pasti seru yah! bisa tiduran di Pasir dengan melihat Skyscaper  Jakarta, dan juga arus  pantai marina ancol.
http://genukpacker.blogspot.com/2017/03/menikmati-keindahan-malam-di-pantai.html

menikmati keindahan malam di pantai marina ancol


Sama seperti orang-orangnya, Jakarta baru “tidur” larut malam. Tempat umum rata-rata buka sampai pukul 22.00, sedangkan jalan raya dan angkutan umum masih ramai hingga menjelang tengah malam.
Di Jakarta, mencari hiburan sepulang beraktivitas tidaklah sulit. Nah, kalau ingin yang sedikit berbeda, kamu bisa mencoba naik ke puncak Monas di malam hari. Tengaran paling terkenal se-Indonesia ini sekarang punya program Wisata Malam yang memungkinkan kamu melihat gemerlap ibu kota dari puncak Monas selepas matahari terbenam.
Kunjungan kedua saya ke Monas cukup spontan. Malam itu cuaca baik, hanya sedikit berawan. “Main ke Monas enak, nih,” pikir saya.
Saya masuk melalui pintu IRTI, yang sekarang terkenal dengan nama Pintu Lenggang Jakarta. Setelah melewati stan-stan makanan dan suvenir, saya tiba di area lapangan Monas. Tidak jauh dari situ, terdapat halte sederhana tempat pemberhentian kereta wisata. Kereta ini mengantar penumpang gratis sampai ke pintu masuk Monumen Nasional.
Naik ke Monas di malam hari
Kereta wisata berhenti di pintu masuk Monumen Nasional. Pintunya berupa tangga menuju lorong bawah tanah.
Setelah turun dari kereta wisata, saya masuk ke pintu Monumen Nasional, kemudian menyusuri lorong bawah tanah yang berujung di loket penjualan tiket.
Wisata Malam Monas, naik ke Monas di malam hari
Lorong bawah tanah menuju loket Wisata Malam Monumen Nasional.
Nah, ada yang berbeda dari kunjungan pertama saya ke puncak Monas. Tahun lalu, saya membayar dengan uang tunai kemudian diberi tiket kertas. Sekarang, saya dikenakan biaya tambahan Rp10 ribu, kemudian diberi sebuah kartu JakCard. Kartu pembayaran elektronik keluaran Bank DKI ini dapat diisi ulang untuk naik TransJakarta, bayar parkir IRTI Monas, masuk Kebun Binatang Ragunan, Museum Seni dan Keramik, Museum Wayang, dan Museum Sejarah Jakarta di Kota Tua. Harga tiket untuk sampai puncak adalah Rp15 ribu per orang. Kalau kamu pergi beramai-ramai, cukup membeli satu JakCard pun boleh, kok.
Loket Wisata Malam Monas - Naik ke Monas di malam hari
Loket penjualan kartu JakCard untuk Wisata Malam Monas.
Setelah mendapat kartu JakCard edisi Wisata Malam Monas, saya kembali menaiki tangga dan menyusuri lorong untuk sampai ke elevator. Di perjalanan, saya melewati aula besar dengan lantai dan dinding marmer bernuansa kuning. Kemudian, saya juga menyempatkan diri masuk ke ruangan yang dinding-dindingnya berhiaskan naskah proklamasi berukuran raksasa, burung Garuda, dan peta Indonesia berwarna emas yang bagus sekali.
wisata malam Monas
Dinding bergambar peta Indonesia warna emas.
Karena waktu sudah mendekati pukul 20.00, saya tidak berlama-lama di ruangan tersebut. Saya bergegas menuju elevator dan mengantre bersama pengunjung lain.
Di depan elevator terdapat mesin tapping. Namun — sepertinya karena alasan ketertiban — saat saya mengantre, seorang petugas menghampiri untuk meminta kartu JakCard. Rupanya, petugas tersebutlah yang akan menempelkan kartu JakCard pengunjung ke mesin palang. Jadi, setelah kartu di-tap, para pengunjung tinggal lewat dan kembali berbaris masuk elevator.
Setelah masuk elevator, ada bapak petugas yang duduk di depan tombol lift. Hanya ada tiga pilihan lantai di lift tersebut, yaitu dasar, cawan, dan puncak. Bapak petugas menekan tombol “puncak”, kemudian seisi elevator melesat ke atas.
Saat pintu elevator terbuka, tibalah saya di area observasi. Di sana terdapat teropong yang sudah tidak berfungsi dan foto gedung-gedung sekitar Monas.
Suasana dek observasi Monumen Nasional di malam hari.
Suasana dek observasi Monumen Nasional di malam hari.
Karena teropongnya tidak dapat dipakai, maka saya hanya sekadar melihat pemandangan malam dengan mata telanjang. Namun, itu saja sudah bisa membuat saya senang. Ternyata malam itu bulan purnama. Di bawah bulan — yang makin malam tampak makin besar — terlihat ratusan lampu gedung menyala terang. Cantik!
Naik ke Monas di malam hari
Panorama Jakarta saat bulan purnama dari puncak Monas. Foto: Edna Tarigan
Sambil memotret bulan, saya memperhatikan sekeliling. Sepertinya tidak ada orang Jakarta selain saya dan teman saya. Bahasa daerah dengan rupa-rupa dialeknya lebih riuh terdengar. Saya juga melihat beberapa pengunjung dari luar negeri, tapi tidak banyak.
Wisata Malam Monas
Pengunjung Wisata Malam Monas
Buat orang yang takut tinggi seperti saya, berada di puncak Monas pada malam hari tidak sampai membuat keringat dingin keluar. Saat melihat ke bawah, saya merasa lebih aman dan tenang karena langit malam mengaburkan sensasi “ngilu” saat berada di ketinggian.
Setelah puas memotret dan menikmati semilir angin malam, saya mengantre turun elevator. Setelah masuk, petugas menekan tombol “cawan” dan menawarkan pengunjung untuk melihat area tersebut. Area cawan berupa pelataran terbuka yang lebih luas dari dek observasi puncak Monas. Pelataran ini sangat menyenangkan untuk duduk-duduk atau istirahat sebentar sebelum pulang.
Naik ke Monas di malam hari
Masjid Istiqlal yang bersinar keemasan dilihat dari cawan Monas.
Di sini, saya mendongak ke atas lalu baru sadar kalau Monas itu tinggi sekali. Pantas di atas sana kubah Istiqlal terlihat mungil.
Naik ke Monas di malam hari
Monas dari pelataran cawan.
Tidak terasa, sudah lewat pukul 21.00. Dari cawan, saya mengikuti petunjuk arah yang membawa saya kembali ke area loket, melewati terowongan bawah tanah, lalu naik kembali ke lapangan Monas. Dari situ, saya naik kereta wisata menuju pintu Lenggang Jakarta.
Mau naik ke puncak Monas di malam hari juga? Perhatikan hal-hal berikut ini, ya.
  • Datanglah saat cuaca baik.
  • Kereta wisata yang mengantar pengunjung bolak-balik dari pintu Lenggang Jakarta ke pintu masuk Monumen Nasional datang setiap 5-10 menit sekali. Kalau sedang tidak ada, ditunggu saja, ya, supaya hemat tenaga. Apalagi kalau kamu datang bersama orang tua atau anak-anak.
  • Sedang ingin jalan kaki? Dari arah gerbang Lenggang Jakarta, berjalanlah ke arah kiri (timur) mengitari lingkar Monas, agar lebih dekat ke pintu masuk tempat loket berada. Kalau kamu jalan ke arah kanan (barat), kamu harus memutari hampir 3/4 lapangan Monas.
  • Pakailah alas kaki yang nyaman. Baik naik kereta wisata atau jalan kaki ke loket, kamu akan menjumpai banyak anak tangga sebelum sampai ke elevator.
  • Bawa jaket. Bagian puncak Monas relatif terbuka, jadi anginnya rawan bikin masuk angin.
  • Sempatkan main ke cawan karena pemandangannya juga bagus.
  • Antrean terakhir untuk naik ke puncak Monas adalah pukul 20.00.
  • Di puncak Monas, pengunjung tidak diberi batasan waktu. Namun, jam operasional Monas hanya sampai pukul 21.00, lalu pukul 22.00 seluruh gerbang Monas akan dikunci. 

  https://www.wego.co.id/berita/naik-ke-puncak-monas-di-malam-hari/

naik ke puncak monas di malam hari

Kota Tua, Pilihan Wisata Warga Jakarta di Malam Hari .

Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya di siang hari, suasana liburan juga dihabiskan warga Jakarta dengan mengunjungi lokasi wisata di malam hari. Misalnya, berwisata di kawasan Kota Tua.

Kawasan wisata yang letaknya tak jauh dari Stasiun Beos Kota, Jakarta Utara, ini memang menjadi salah satu destinasi wisata warga Jakarta. Mereka berbondong-bondong datang ke kawasan yang tiap malam kerap terdapat pasar malam itu.

Kota Tua atau disebut dengan Batavia Lama sejatinya merupakan kawasan wisata yang dipenuhi bangunan museum. Salah satunya bekas Kantor Gubernur Jenderal Vereenigde Ootindische Compagnie (VOC) zaman penjajahan Belanda. Atau Museum Wayang dan Museum Fatahillah.

‎Di pelataran museum yang disebut juga sebagai Museum Sejarah Jakarta itulah masyarakat tumpah ruah. Mereka datang dengan berbagai moda transportasi, dari angkutan umum sampai pribadi, baik roda dua maupun roda empat.

‎"Sengaja jalan-jalan ke sini. Mumpung masih libur," kata Rina (23) kepada Liputan6.com, Senin malam 20 Juli 2015.

Rina yang datang bersama teman prianya itu sengaja memilih wisata malam hari ke Kota Tua karena tak ada tempat wisata lain lagi yang dapat dikunjungi malam hari.

"Tadi siang masih kumpul-kumpul sama keluarga besar. Jadi baru bisa jalan-jalan ya malam hari. Dan tempat wisata yang masih buka pas malam itu kan palingan yang di sini," ujar warga Tebet, Jakarta Selatan ini.

Keruk Keuntungan

Ramainya pengunjung Kota Tua di malam hari juga membawa keuntungan bagi mereka yang mencoba mengais rezeki. Misalnya, Rudiatmo (32), pedagang kaus bergambar dengan tema kawasan Kota Tua.

Warga Kwitang, Jakarta Pusat ini mengakui, keuntungan yang didapat dari momen liburan ini bisa 2 sampai 3 kali lipat dibanding hari biasa. Itu bisa dilihat dari jumlah kaus yang dijualnya.

"Hari biasa paling 5 atau 10 potong yang laku. Nah dari kemarin‎ saya hitung tiap hari laku 15, bahkan 20 potong," ujar dia.

Lain Rudiatmo, lain pula Sapari Atun. Perempuan 27 tahun itu berjualan berbagai macam minuman. Atun mengakui, sejak sore dagangannya laku keras.

"Jualnya Rp 5 ribu. Kalau hari biasa Rp 4 ribu. Soalnya kan ini tempat wisata," kata‎ warga Pademangan, Jakarta Utara, ini.

‎Di sisi lain, para juru parkir juga memanfaatkan momen ini. Dari trotoar sampai halaman gedung dijadikannya tempat parkiran. Yang jelas tampak dan banyak adalah kenderaan roda dua. Tak terhitung jumlahnya sepeda motor diparkir di sini.

"Parkirnya Rp 5 ribu buat motor. Kalau mobil Rp 10 ribu," kata salah seorang juru parkir yang tentunya bukan juru parkir resmi.

Malam pun semakin larut. Namun, mayoritas wisatawan yang didominasi ‎lokal ini masih menikmati jalan-jalan mereka. Ada yang masih jalan kaki berkeliling sembari melihat-lihat beragam jenis dagangan.


 https://www.liputan6.com/news/read/2276282/kota-tua-pilihan-wisata-warga-jakarta-di-malam-hari

kota tua , pilihan wisata warga jakarta di malam hari